Mengenal Hakikat Rezeki

Pernahkah Sahabat mengenal seseorang dengan penghasilan yang jauh melebihi kebutuhan pokoknya, namun ia terus menerus mengeluh kekurangan, gelisah memikirkan cicilan dan tak pernah merasa tenang dengan hartanya? Di sisi lain, ada pula orang berpenghasilan sederhana yang hidupnya tenang, cukup, bahkan masih sanggup membantu orang lain.

Perbedaannya bukan pada besar kecilnya angka di rekening, melainkan pada ada atau tidaknya barakah.

 

Apa Itu Barakah?

Secara bahasa, barakah berarti ziyadatul khair bertambahnya kebaikan. Dalam konteks harta, barakah adalah kondisi ketika rezeki, betapa pun jumlahnya, memberi ketenangan, kecukupan dan manfaat yang terus tumbuh bukan sekadar angka yang membengkak namun menyisakan kegelisahan.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menegaskan bahwa hakikat kekayaan bukan terletak pada banyaknya harta:

Bukanlah kekayaan itu (diukur) dari banyaknya harta benda, tetapi kekayaan yang sesungguhnya adalah kekayaan (kecukupan) hati.

(HR. Al-Bukhari no. 6446 dan Muslim no. 1051, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu)

Imam Ibnu Baththal rahimahullah menjelaskan, betapa banyak orang yang diberi kelapangan harta oleh Allah namun tidak pernah merasa cukup ia terus berusaha menambah dan menambah, sehingga seakan-akan fakir meski hartanya melimpah. Sebaliknya, hati yang qana'ah (selalu merasa cukup dan ridha) itulah kekayaan yang sesungguhnya.

 

Dua Kunci Menjemput Rezeki yang Berkah

Allah subhanahu wa ta'ala memberi janji yang sangat jelas bagi siapa saja yang bertakwa dalam mengelola urusan hidupnya, termasuk urusan harta:

 

Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.

(QS. At-Talaq [65]: 2–3)

 

Ayat ini menegaskan dua kata kunci: takwa menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah dalam cara mencari rezeki, termasuk menjauhi riba; dan tawakal menyandarkan hasil akhir sepenuhnya kepada Allah setelah ikhtiar maksimal. Kombinasi keduanya, bukan sekadar kerja keras semata, yang membuka pintu rezeki dari arah yang tak pernah kita duga.

 

 Uang: Alat Tukar, Bukan Tujuan Spekulasi

Salah satu akar masalah keuangan modern adalah bergesernya fungsi uang. Dalam fiqih muamalah klasik, uang berkedudukan sebagai alat ukur nilai dan alat tukar — bukan barang dagangan yang diperjualbelikan untuk mengambil untung dari selisihnya semata. Ketika uang diperlakukan sebagai komoditas yang "beranak-pinak" sendiri tanpa usaha riil — seperti pada bunga atau spekulasi tanpa aset dasar yang jelas — di situlah ketidakadilan dan kerusakan ekonomi mulai muncul.

 

Rezeki Harus Bersih agar Doa Tak Sia-Sia

Islam tidak melarang seseorang menjadi kaya. Yang diatur ketat adalah caranya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengingatkan bahwa sumber rezeki  halal atau haram sangat menentukan diterimanya doa:

 ...Padahal makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan ia tumbuh dari yang haram maka bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan?"

(HR. Muslim no. 1015, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu)

Sebelum bertanya berapa banyak rezeki yang saya dapatkan bulan ini?

Tanyakan lebih dulu: dari mana dan bagaimana cara saya mendapatkannya? Niatkan setiap transaksi gaji, hasil dagang, maupun investasi semata mencari rida Allah.

 

Rezeki Berkah, Dibagikan Jadi Berlipat

Salah satu cara menjaga rezeki tetap mengalir dengan barakah adalah dengan menyisihkan sebagian untuknya orang lain lewat zakat, infak, dan sedekah. Sahabat bisa memulai dari yang kecil dan konsisten salurkan zakat dan sedekah Sahabat melalui program pemberdayaan ekonomi LAZNAS Domyadhu, agar rezeki yang berkah ini turut membantu keluarga yatim dan dhuafa menuju kemandirian.

Dompet Yatim dan Dhuafa LAZNAS DOMYADHU